4 Keunikan Rumah Adat Banten “Baduy”

4 Keunikan Rumah Adat Banten “Baduy”

Provinsi Banten merupakan salah satu daerah yang dekat dengan Jakarta, dimana Provinsi ini terkenal akan areanya yang panas dengan pelabuhan Merak dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta didalamnya.

Anda pasti juga mendengar mulai dari Tangerang, maupun Serang sampai Cilegon yang menjadi salah satu kota yang ada dalam provinsi tersebut.

Salah satu budaya yang paling dikenal masyarakat Indonesia adalah sukunya yang khas dan terkenal dengan kekuatan yang luar biasa yaitu Baduy. Suku ini sangat dekat dengan alam, mereka memang menutup dari berbagai budaya luar yang bisa merusak tatanan budaya mereka yang kental dan penuh akan filosofi.

Begitupun cara hidupnya yang masih bergantung dan percaya bahwa dengan merawat alam maka anda akan dirawat oleh alam.

Berbicara soal tradisional dan budaya dalam artikel ini akan kita bicarakan mengenai rumah adat khas dari Banten yaitu keunikan rumah adat baduy. Apa saja ?

1. Menggunakan Batu Kali

Rumah Adat Banten

Keunikan pertama datang dari rumah adat Banten yang menggunakan Batu kali untuk membangun atau mendirikan pondasi rumah. Menurut masyarakat Baduy, karena alam adalah yang terkuat maka pemilihan batu kali juga menjadi hal yang sangat penting pula di lingkungan kampung suku Baduy.

Batu kali digunakan untuk tumpuan tiang penyangga rumah dan ukuran rumah menyesuaikan, jika besar maka batu kali yang digunakan juga haruslah besar.

Guna dari batu kali adalah penahan tanah agar tidak longsor, sehingga jika terjadi becek atau masalah rumah tidak akan terganggu. Cara sangat mudah dengan menumpukan batu dan menjadikan batu sebagai benteng.

2. Tidak Menggunakan Paku

Keunikan kedua dari rumah adat Banten atau rumah baduy yaitu filosofi yang tidak boleh menggunakan paku karena dianggap berbahaya. Untuk menahan berat dari sebuah rumah, konstruksinya dibuat berbeda dimana tiang dibuat dengan bentuk panglari, pananggeuy, dan lincar.

Teknik ini menggunakan kaitan atau sangkutan ala puzzle yang justru lebih kuat karena masing-masing kayu tersambung dengan baik. Terutama ketika kayu tersebut sudah mulai mengering dan juga kaku.

3. Menghadap Utara dan Selatan

Keunikan lain yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Baduy yaitu seluruh bangunan yang dibuat menghadap ke arah utara ataupun selatan. Bagi masyarakat Baduy khususnya sesepuh mereka tidak diperbolehkan untuk membangun rumah ke barat maupun ke timur.

Selain itu ada hal menarik lainnya, dimana Baduy memang hidup menyatu dengan alam. Mereka memperlakukan alam atau bumi tanpa menghilangkan atau menambah, masyarakat Baduy juga berusaha untuk tidak mengolah lahannya.

Misal, ngalelemah taneuh, disaeuran, atawa diratakeun- dengan arti tanah harus di ratakan atau diolah untuk kepentingan bangunan yang akan didirikan di atasnya. Hal seperti ini dilarang oleh masyarakat Baduy.

4. Satu Pintu Masuk

Rumah tinggal suku Baduy atau rumah adat Banten tidak boleh menggunakan bahan sembarangan dan konstruksi sembarang. Untuk rumah adat Banten anda harus menggunakan satu pintu saja yang biasa disebut panto.

Pintu ini memanfaatkan bahan seperti anyaman dari bilah bambu berukuran sebesar ibu jari dan dianyam secara vertikal. Teknik anyaman yang dilakukan oleh masyarakat Baduy biasa disebut sebagai sarigsig.

Orang Baduy sendiri tidak tahu akan ukuran seperti halnya masyarakat modern, mereka hanya tahu bahwa sesepuh mengatakan bahwa panto dibuat seukuran ibu jari dan membuatnya untuk menutupi rumah di depan. Sehingga anda tidak bisa menanyakan secara jelas berapa meter rumah yang mereka buat atau hal sejenisnya.

Leave a Comment